PPasarwajo Citra
Budaya Suku Buton & Tradisi Bhisa Pasarwajo

Bhisa di Pasarwajo: Menjaga Tradisi Bahari Suku Buton di Pusat Pemerintahan Kabupaten

Bhisa, perahu tradisional Suku Buton, tetap hidup di Pasarwajo, pusat pemerintahan Kabupaten Buton, sebagai penjaga tradisi bahari dan denyut ekonomi pesisir.

Bhisa di Pasarwajo: Menjaga Tradisi Bahari Suku Buton di Pusat Pemerintahan Kabupaten

Fakta Kunci

  • Pasarwajo adalah kecamatan sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara.
  • Terletak di bagian timur Pulau Buton dan menjadi salah satu pusat transportasi laut di kabupaten.
  • Bhisa adalah perahu tradisional Suku Buton yang masih digunakan nelayan di perairan Pasarwajo.
  • Aktivitas bahari di Pasarwajo menopang perdagangan, pelayanan publik, dan kehidupan pesisir.
  • Tradisi bhisa dirawat turun-temurun meski Pasarwajo berkembang sebagai kawasan pemerintahan.

Denyut Laut di Pusat Pemerintahan

Pagi di Pasarwajo tidak dimulai dari kantor bupati. Ia dimulai dari dermaga. Sebelum lampu ruang rapat menyala, perahu-perahu kecil sudah bergerak keluar menuju perairan timur Pulau Buton. Sebagian di antaranya adalah bhisa, perahu tradisional Suku Buton yang bentuknya khas dan sudah dikenal lama oleh nelayan setempat.

Pasarwajo adalah kecamatan sekaligus kawasan yang menjadi pusat pemerintahan dan ibu kota Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Letaknya di bagian timur Pulau Buton. Di kawasan ini kegiatan pemerintahan, perdagangan, pelayanan publik, dan transportasi laut bertemu dalam satu ruang yang sama. Karena itu, pemandangan bhisa yang melintas di antara aktivitas kota bukan hal aneh. Ia bagian dari lanskap harian.

Bagi warga, bhisa bukan sekadar benda. Ia cara mempertahankan hubungan dengan laut. Orang tua mengajarkan cara mendayung, membaca arah angin, dan mengenali pasang. Anak-anak menyaksikannya dari tepi dermaga. Tradisi berpindah tanpa upacara besar, lewat kebiasaan pagi yang berulang.

Bhisa, Perahu yang Tak Lekang

Bhisa dibuat dari bahan kayu yang dipilih dengan pertimbangan kekuatan dan ketersediaan. Bentuknya ramping, cocok untuk perairan pesisir. Nelayan menggunakannya untuk menangkap ikan, mengangkut hasil, atau berpindah antar kampung pesisir. Ukurannya tidak seragam, menyesuaikan kebutuhan pemilik.

Yang membuat bhisa bertahan adalah fungsinya. Ia murah dirawat, bisa dibuat sendiri, dan cocok dengan karakter laut sekitar. Di Pasarwajo, beberapa keluarga nelayan masih memproduksi dan memperbaiki bhisa secara turun-temurun. Perawatan dilakukan dengan mengganti bagian kayu yang lapuk, mengolesi pelapis, dan memeriksa sambungan.

Namun tradisi ini menghadapi tekanan. Perahu modern berbahan fiber dan mesin tempel menawarkan kecepatan. Generasi muda lebih tertarik pada pekerjaan di sektor pemerintahan dan perdagangan. Meski begitu, bhisa tidak hilang. Ia bertahan di celah-celah aktivitas kota, dipakai untuk kebutuhan yang tidak selalu bisa dipenuhi perahu modern: menjangkau perairan dangkal, menepi di pantai sempit, atau sekadar melaut dalam jarak dekat.

Menjaga Tradisi di Tengah Kota

Pasarwajo tumbuh sebagai pusat pemerintahan. Kantor-kantor berdiri, pasar bergerak, pelayanan publik berjalan. Di tengah pertumbuhan itu, tradisi bahari tetap punya tempat. Dermaga dan pesisir menjadi ruang pertemuan antara warga kota dan nelayan.

Menjaga bhisa berarti menjaga pengetahuan lokal. Pengetahuan tentang kayu, tentang laut, tentang cuaca. Pengetahuan ini tidak diajarkan di sekolah formal, tetapi diwariskan di rumah dan di tepi pantai. Karena itu, upaya pelestarian yang paling nyata datang dari keluarga nelayan sendiri. Mereka memakai bhisa karena butuh, bukan karena program.

Pemerintah daerah dan warga bisa berperan dengan cara sederhana: memberi ruang di pesisir, menjaga akses ke dermaga, dan tidak menyingkirkan perahu tradisional dari lanskap kota. Jika ruang itu hilang, tradisi juga akan sulit bertahan.

Bhisa di Pasarwajo adalah pengingat bahwa pusat pemerintahan tidak harus kehilangan akar bahari. Kota bisa tumbuh, kantor bisa bertambah, tetapi laut tetap menjadi bagian dari identitas. Selama bhisa masih turun ke air, tradisi Suku Buton di Pasarwajo tetap hidup.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa itu bhisa?

Bhisa adalah perahu tradisional Suku Buton yang digunakan nelayan di perairan Pasarwajo dan sekitarnya untuk melaut, mengangkut hasil, dan berpindah antar kampung pesisir.

Di mana Pasarwajo berada?

Pasarwajo adalah kecamatan sekaligus pusat pemerintahan dan ibu kota Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, terletak di bagian timur Pulau Buton.

Mengapa bhisa masih digunakan?

Karena bhisa murah dirawat, bisa dibuat sendiri, dan cocok untuk perairan pesisir dangkal yang sulit dijangkau perahu modern.

Apa tantangan pelestarian bhisa?

Perahu modern berbahan fiber dan mesin tempel lebih cepat, sementara generasi muda cenderung beralih ke pekerjaan di sektor pemerintahan dan perdagangan.