Kambewe, Kacang Sembunyi, dan Sagu: Cita Rasa Lokal di Meja Warga Pasarwajo
Kambewe, kacang sembunyi, dan sagu jadi cita rasa lokal di meja warga Pasarwajo, pusat pemerintahan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
Fakta Kunci
- Pasarwajo adalah kecamatan sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
- Terletak di bagian timur Pulau Buton dan menjadi pusat perdagangan serta pelayanan publik.
- Kambewe, kacang sembunyi, dan sagu adalah sajian berbasis bahan lokal yang akrab di dapur warga.
- Sagu diolah dari pati batang sagu yang banyak tumbuh di wilayah Sulawesi Tenggara.
- Pasarwajo juga salah satu pusat transportasi laut di Kabupaten Buton.
Pagi di Dapur Warga Pasarwajo
Di Pasarwajo, kecamatan yang jadi pusat pemerintahan Kabupaten Buton, pagi tidak dimulai dari bunyi klakson panjang. Dari dapur-dapur di pinggir jalan menuju pelabuhan, bunyi yang lebih akrab adalah cetakan kue beradu dengan meja kayu. Perempuan-perempuan paruh baya menyiapkan adonan kambewe, kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula, kadang dicampur kelapa parut. Aromanya manis, sedikit berasap, membaur dengan uap kopi hitam tanpa susu.
Kambewe bukan makanan mewah. Ia hadir di meja tamu, di kotak bekal anak sekolah, di warung-warung kecil dekat kantor kecamatan. Teksturnya padat namun lembut, dengan rasa manis yang tidak agresif. Bagi warga Pasarwajo, kambewe lebih dari camilan; ia penanda bahwa ada tamu, ada syukuran, atau ada acara keluarga. Sebagian orang menyebutnya kue jadul, sebagian lagi hanya menyebutnya kue kampung.
Di sisi lain pasar, pedagang lain menjajakan kacang sembunyi. Nama itu dipakai karena kacang tanah utuh dibalut adonan tipis lalu digoreng, sehingga kacangnya "bersembunyi" di dalam lapisan renyah. Rasanya gurih, sedikit asin, kadang pedas bila diberi cabai bubuk. Kacang sembunyi kerap jadi teman minum teh sore atau oleh-oleh ringan bagi pegawai yang bertugas ke luar daerah.
Sagu, Bahan yang Menyatukan Meja
Sagu menjadi benang merah di banyak dapur Pasarwajo. Pati dari batang sagu ini diolah menjadi kapurung, sinole, atau sekadar digoreng dengan sedikit gula. Di wilayah Sulawesi Tenggara, sagu bukan bahan asing; ia tumbuh di rawa-rawa dan menjadi sumber karbohidrat yang murah serta tahan lama.
Prosesnya tidak instan. Batang sagu diparut, diperas, lalu patinya diendapkan. Setelah kering, tepung sagu siap dimasak. Warga Pasarwajo biasa menyajikannya sebagai pengganti nasi, terutama saat harga beras naik atau saat musim hujan menyulitkan pasokan. Sagu dimasak dengan air mendidih, diaduk hingga mengental, lalu disantap dengan ikan asin, sayur daun singkong, atau kuah ikan segar dari perairan sekitar Pulau Buton.
Kombinasi kambewe, kacang sembunyi, dan sagu menunjukkan satu hal: dapur Pasarwajo tidak bergantung pada bahan impor. Ketiganya lahir dari apa yang tersedia di pasar dan kebun sekitar. Sagu dari rawa, kacang dari kebun, dan beras dari sawah tetangga. Ini bukan tren kuliner, melainkan kebiasaan lama yang bertahan karena masuk akal secara ekonomi.
Rasa yang Bertahan di Pusat Pemerintahan
Sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan Kabupaten Buton, Pasarwajo menerima banyak pendatang: pegawai dinas, pedagang antarpulau, dan pelajar dari kecamatan lain. Mereka membawa selera masing-masing, tetapi kambewe, kacang sembunyi, dan sagu tetap punya tempat. Di warung dekat pelabuhan, sagu goreng dijual per bungkus kecil dengan harga yang relatif terjangkau. Di pasar pagi, kacang sembunyi ditumpuk dalam plastik bening, ditimbang cepat, lalu dimasukkan ke tas belanja.
Yang menarik, makanan ini tidak dipromosikan besar-besaran. Tidak ada papan nama besar, tidak ada kemasan mewah. Ia bergerak lewat mulut ke mulut, lewat tetangga yang berbagi resep, lewat ibu yang mengajari anaknya mengaduk sagu. Di tengah arus makanan instan, bertahannya kambewe dan kacang sembunyi menandakan bahwa selera lokal punya akar kuat.
Bagi pendatang, mencicipi ketiganya adalah cara cepat memahami Pasarwajo. Bukan lewat bangunan kantor, melainkan lewat rasa manis kambewe, gurih kacang sembunyi, dan netralnya sagu yang menerima hampir semua lauk. Di meja warga, tiga sajian itu bukan sekadar pengganjal lapar. Mereka adalah catatan harian tentang bagaimana orang Pasarwajo mengolah apa yang ada, dan bertahan dengan itu.
Cuplikan Video
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu kambewe?
Kambewe adalah kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan gula, kadang dicampur kelapa parut, yang biasa disajikan di acara keluarga atau sebagai camilan harian warga Pasarwajo.
Mengapa disebut kacang sembunyi?
Karena kacang tanah utuh dibalut adonan tipis lalu digoreng, sehingga kacangnya tampak "bersembunyi" di dalam lapisan renyah.
Apakah sagu makanan khas Pasarwajo?
Sagu adalah bahan pangan yang lazim di Sulawesi Tenggara, termasuk Pasarwajo. Sagu diolah menjadi kapurung, sinole, atau sagu goreng, dan sering menjadi pengganti nasi.
Di mana bisa menemukan makanan ini di Pasarwajo?
Biasanya di pasar pagi, warung dekat pelabuhan, dan warung-warung kecil di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Buton.